Para Pendiri & Sesepuh

1. Ibu Hj. Solichah A. Wahid Hasyim
PAHR

Solichah A. Wahid Hasyim (1922-1994) adalah putri pasangan Kiai Bisri Syansuri dan Nyai Nur Chadijah dari Tambakberas Jombang. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai perempuan yang super aktif dalam kegiatan sosial dan politik. Semenjak suaminya, Wahid Hasyim, wafat dalam suatu kecelakaan lalu lintas, ia tampil sebagai single parent, mendidik dan membesarkan sendiri lima putra-putrinya yang masih kecil-kecil. Peran dan pengabdiannya meninggalkan kesan begitu mendalam bagi masyarakat luas. Ibunda mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid ini dikenang sebagai ‘Ibu Besar Keluarga NU’, ’Ibu’ dari banyak pemuda pergerakan dan generasi muda NU. Ia juga dikenang sebagai pejuang kemajuan perempuan melalui program keluarga berencana untuk menciptakan keluarga sakinah.

2. Ibu Hj. Solichah Saifuddin Zuhri

Solichah Saifuddin Zuhri (1925-1990) adalah putri Haji Dahlan, juragan batik dari Purworejo. Semenjak menikah dengan Saifuddin Zuhri, seorang pemuda pejuang, kehidupannya berubah. Ia mengikuti langkah kaki suami yang penuh dengan pahit getir perjuangan. Namun berkat tempaan dan gemblengan itu ia berkembang menjadi perempuan yang kuat, tabah dan tahu akan makna perjuangan serta arti kehidupan yang sejati. Ketika hijrah ke Jakarta pada masa awal kemerdekaan, ia kemudian ikut aktif dalam Muslimat NU, salah satu sayap NU dari kalangan perempuan. Jabatan tertinggi yang pernah dipegangnya adalah Ketua II PP Muslimat NU yang membidangi Pendidikan. Ibunda Ketua Panti Annisa Hadi ini juga pernah menjadi Ketua Pengurus Rumah Bersalin Muslimat Jakarta. Ibu Hj. Solichah Saifuddin Zuhri memiliki 10 orang anak; 4 orang putra dan 6 orang putri, serta 26 orang cucu dan 17 cicit.

3. Hj. Soetarijah Rachmat Mulyomiseno
PAHR
Ibu Soetarijah Rachmat Mulyomiseno (1922-2007) adalah penggiat sosial di lingkungan Muslimat NU yang bergabung dalam kegiatan Panti sejak panti masih berada dalam gagasan. Setelah berdiri tahun 1976, alumnus HIS Cianjur dan MULO Jakarta ini, langsung diberi kepercayaan menjadi ketua. Jabatan ini diemban selama beberapa periode hingga  1996-2000. Pada tahun 1997, ia memilih mengundurkan diri, dan posisinya digantikan oleh Hj. Annisa S. Hadi. Meski begitu, khidmahnya di Panti tidak pernah berhenti. Pengalamannya yang panjang membuat ia diminta untuk duduk sebagai penasehat. Menikah dengan Rachmat Mulyomiseno, seorang menteri pada era Soekarno, dan dikaruniai delapan orang anak.

4. Hj. Madillah Himpuni Suparman
PAHR
Ibu Madillah Himpuni Suparman (1926-2006) semasa hidupnya dikenal sebagai penggiat sosial yang gigih dan pantang menyerah. Semenjak suaminya, Suparman, meninggal dunia tahun 1966, hidupnya diabdikan untuk kemanusiaan. Tidak terpikir olehnya untuk menikah lagi. Ia merasa sudah cukup bahagia hidup bersama dua anak angkatnya, Leo Budipangarso dan Nana Junaidi. Sebagai pimpinan Muslimat NU, ia terjun langsung menangani program-program amaliah sosial yang bermanfaat langsung bagi rakyat banyak. Melalui YKMNU Pusat, lembaga yang dibentuk Muslimat NU, ia ikut mendirikan sekolah-sekolah dan panti-panti asuhan serta rumah bersalin. Ia juga berperan aktif dalam usaha pengendalian penduduk tahun 1970-an yang dicanangkan pemerintah melalui program keluarga berencana.

5. Hj. Aisyah Hamid Baidlowi
PAHR

Sejak kecil, putri pasangan K.H. A. Wahid Hasyim dengan Hj. Solichah ini dididik aktif di dunia sosial kemasyarakatan. Tak heran bila ibu yang lahir di Jombang, 6 Juni 1940 ini telah aktif di lingkungan NU sejak usia 19 tahun, mulai di Fatayat NU kemudian Muslimat NU. Pada puncak pengabdian di Muslimat NU, ia diberi amanat menjadi Ketua Umum PP Muslimat NU (1995-2000). Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar ini layak dicatat sebagai pendiri Panti karena keterlibatan sejak masa perintisan hingga berdirinya Panti serta menjadi Ketua I beberapa periode.  Menikah dengan H. Hamid Baidlowi, seorang pengusaha, dan dikaruniai lima anak sebagai buah hatinya, dan beberapa cucu yang menjadi “teman kecil” di kala ia melepas lelah setelah bekerja.

6. Hj. Annisa Hadi
PAHR
Lahir di Purworejo (Jawa Tengah) 11 Juli 1947. Ia memimpin Panti menggantikan Hj. Soetarijah Rachmat Mulyomiseno yang mengundurkan diri tahun 1997 sampai akhir hayatnya (4 April 2009). Putri almarhum Prof. KH. Saifuddin Zuhri dan Hj. Solichah Saifuddin ini dikenal mempunyai kepedulian sosial yang cukup tinggi. Selain aktif di panti, Direktris Nissa Group/Nissa Salon itu juga aktif di berbagai yayasan sosial, seperti Yayasan Ash-Sholichah dan Yayasan Saifuddin Zuhri, serta berwiraswasta bergabung bersama group yang bergerak di bidang alat-alat kesehatan. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya ia berhasil meraih berbagai penghargaan, di antaranya Citra Pelaku Dunia Karier (1999), Tokoh Peduli SDM Berkualitas (2000), dan Citra Kartini Award 2001. Ia juga pernah meraih juara lomba Tata Rias Pengantin Betawi (1990) dan Tata Rias Pengantin Barat (1991). Menikah dengan dr. S. Hadi Dononogoro (alm) dikaruniai tiga anak: drg. Hj. Diana Hadianti Dicky, Dra. Hj. Novita Arini Nur Kholis, dan Hj. Sinta Caressa Dewanto, SE, tiga orang menantu, H. Dicky Kurniawan, H. Nur Kholis dan Wahyu Dewanto, SH. MH, serta 3 orang cucu: Fatih, Angling Dharmo, Abyan Zhafran dan Tazkia Afida.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: