Tentang

Latar belakang berdirinya Panti Asuhan Harapan Remaja

Setelah melalui serangkaian pembicaraan di kalangan pengurus dan aktivis Muslimat NU Pusat, serta tidak lupa meminta dukungan para tokoh NU, gagasan pendirian panti asuhan semakin bergulir dan memperoleh kesepakatan bersama. Untuk itu dibentuklah Panitia Pendirian Panti Asuhan oleh YKM NU Pusat. Ketua Panitia Ibu Hj. Wahid Hasyim dengan Wakil Ketua Panitia K. H. Ayatullah Saleh, salah seorang ulama Jakarta yang berpengaruh di kalangan masyarakat ibukota sekaligus menjadi Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PPP unsur NU. Panitia lainnya antara lain Drs. H. Abdul Rachim Hasan, Hj, Muhibbah Sawabi (Adik kandung H. Mahbub Djunaidi, salah seorang tokoh NU tingkat Nasional), Hj. Aisyah Hamid Baidlowi, Hj. anissa Hadi, dan Hj.Farida salahuddin Wahid. Seluruh pengurus YKM NU Pusat menjadi anggota panitia.

Setelah bekerja bebarapa waktu lamanya, Panitia Pendirian Panti Asuhan yang didirikan oleh YKM NU Pusat berhasil memenuhi target. Pada tanggal 4 Desember 1976 secara resmi sebuah panti asuhan berdiri diatas tanah di Jl. Tenggiri No. 37 Rawamangun Jakarta Timur.

Pada saat peresmian panti asuhan, hadir berbagai tokoh NU maupun pemerintahan. Dari PBNU hadir sekaligus memberi sambutan K. H. Saifuddin Zuhri, yang saat itu menjabat Ketua PBNU. Juga hadir dan memberi sambutan Ketua Umum PP Muslimat Hj. Machmudah Mawardi. Hadir juga pada kesempatan itu Muzaini Ramli, Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta dan teman-temannya, para pengurus dan aktivis Muslimat NU dan NU, pejabat pemerintahan antara lain Wakil Kakanwil Departemen Sosial merangkap Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Drs. H. M. Thoha, camat PULOGADUNG JAKARTA TIMUR, dan warga sekitar.

Panti asuhan ini mendapat izin kegiatan dari Dinas Sosial DKI Jakarta pada tanggal 29 November 1976 berdasarkan SK Nomor 3319.IV/D/’76. Kemudian pada tanggal 22 Juni 1977, bertepatan ulang tahun Jakarta yang ke-449, Panti Asuhan Harapan Remaja diresmikan penggunaannya oleh Walikota Jakarta Timur.
Tokoh-tokoh yang terukir namanya sebagai aktivis Panti Asuhan <strong>Harapan Remaja</strong> adalah lima aktivis Muslimat NU Pusat dan juga Pengurus YKM NU Pusat, yaitu Hj. Solichah A. Wahid Hasyim, Hj. Solichah Saifuddin Zuhri, Hj. Soetarijah Rachmat Mulyomiseno, Hj. Madilah Himpuni Suparman, dan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi. Panti Asuhan ini selanjutnya berada di bawah naungan YKM NU Pusat dan menjadi salah satu unit kegiatan yayasan milik Muslimat NU.
Pendirian panti asuhan ini disebabkan keprihatinan para pendiri serta para pendukung gagasannya dengan berkembangnya masalah-masalh sosial yang menimpa anak dan remaja seperti kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang dan narkoba serta belum adanya lembaga panti asuhan dilingkungan NU (saat itu), padahal NU yang didirikan tahun 1926 ini dikenal sebagai organisasi slam terbesar jumlah anggotanya di tanah air.

Secara rinci Hj. Asiyah Hamid Baidlowo menyebutkan tiga alasan mengapa panti asuhan itu didirikan.

Pertama, banyaknya anak-anak dan remaja yang tidak bisa sekolah atau drop out dari sekolah karena orang tuanya tidak mampu, tidak punya bapak atau ibu atau tidak punya kedua-duanya. Ini mendorong semakin banyaknya anak-anak gelandangan, anak jalanan, dan anak-anak nakal. Pendirian panti asuhan ini diharapkan dapat memecahkan (sebagian) masalah sosial tersebut. Kedua, semakin maraknya kenakalan remaja antara lain penggunaan obat-obatan terlarang dan narkotika. Kondisi buruk itu antara lain karena kurangnya pembinaan dan pendidikan dalam keluarga dan karena keluarga yang dilanda kemiskinan. Pendirian panti asuhan diharapkan mampu membantu orang tua atau keluarga yang tidak mampu mendidik dan membina anak agar anak dapat memperoleh pendidikan dan pembinaan seperti halnya anak-anak lain yang menikmatinya. Ketiga, Pendirian panti asuhan juga disebabkan karena NU yang sering menyatakan dirinya sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia tidak memiliki satu pun panti asuhan di wilyah DKI Jakarta. Secara pribadi beberapa tokoh NU -baik di tingkat pusat maupun daerah- mempunyai panti asuhan.

Tujuan berdirinya Panti Asuhan Harapan Remaja adalah :

  1. Membantu memecahkan dan mengatasi masalah yang dihadapi anak yatim piatu, yatim, piatu, terlantar, dan tidak mampu.
  2. Memupuk dan Meningkatkan rasa santun dan kesadaran sosial di kalangan masyarakat.
  3. Membantu usaha-usaha lain yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya anak yatim piatu, yatim, piatu, terlantar, dan tidak mampu.

Usaha yang dilakukan oleh Panti Asuhan Harapan Remaja adalah :

  1. Menyantuni, membina, membimbing dan mendidik anak yatim piatu, terlantar dan tidak mampu di dalam maupun di luar panti.
  2. Memberikan informasi tentang rasa santun dan kesadaran sosial dalam masyarakat.
  3. Menyelenggarakan penerangan pendidikan dalam rangka meningkatkan rasa santun dan kesadaran sosial kepada masyarakat.
  4. Mengadakan hubungan kerjasama dengan instansi dan badan-badan sosial dalam rangka meningkatkan rasa santun dan kesadaran sosial.
  5. Mendirikan madrasah diniyah bagi anak-anak usia SD yang ada di sekitar Panti Asuhan.

Mengenai nama Harapan Remaja yang dipilih untuk memberi nama panti asuhan milik YKMNU Pusat itu, Hj. Aisyah Hamid Baidlowi mengemukakan, nama itu dipilih di tengah hebohnya penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang oleh sebagian kaum remaja di Jakarta pada saat itu (tahun 1970-an tepat 1976). Kondisi ini tentu saja menghawtirkan pada orang tua, tokoh masyarakat, dan pemerintah tentang kaum muda dan masa depan bangsa. Di tanah air, khususnya di DKI Jakarta, ditengah kondisi memprihatinkan tersebut, pengurus dan aktivis muslimat NU dan YKM NU Pusat sepakat memberi nama panti asuhan Harapan Remaja untuk panti asuhan anak dan remaja yang didirikan di rawamangun, Jakarta Timur itu.

Tentu saja muncul harapan baru dikalangan orang tua, tokoh masyarakat, dan pemerintah akan dapat dibentuknya sosok dan kehidupan anak dan terutama remaja yang lebih baik. “Dengan memberikan Harapan Remaja, itu berarti memberikan harapan hidup yang lebih berarti bagi masa depan remaja kita”, ujar Hj. Aisyah Hamid Baidlowi.

Saat-saat menjelang berdirinya panti asuhan Harapan Remaja, pada tahun 1971 keluar intruksi presiden untuk menanggulangi narkoba (dahulu istilah narkotika). Dari inpres ini kemudian BAKIN (Badan Koordinasi Intelejen Negara, sekarang berubah namanya menjadi BIN atau Badan ntelejen Negara) / Badan koordinasi Inpres No. 6 Tahun 1971, membentuk organisasi bersama yang merupakan kumpulan organisasi/lembaga yang bergerak dalam penanggulan narkoba.

Dukungan tokoh NU terhadap pendirian panti asuhan antara lain dari: K. H. Saifuddin Zuhri, K. H. Muslich. Kyai Saifuddin Zuhri, Tokoh Nu Tingkat Nasional yang pernah menjabat menteri agama di era Presiden Soekarno, dalam pandangan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi secara luar biasa telah memberikan support kepada para pendiri panti asuhan.

“beliau memang benar-benar membantu berdasarkan kebutuhan dalam pendirian panti asuhan Harapan Remaja,” ujar anggota DPR RI ini. Sedangkan kyai Muslich yang memiliki pengaruh besar dilingkungan masyarakat Jawa Tengah memberikan dukungan dalam proses pembelian tanah sehingga tidak ada kesulitan yang berarti.

Maka Berdirilah Panti Asuhan Harapan Remaja
Di JALAN TENGGIRI NOMOR 37, RAWAMANGUN, PULOGADUNG  JAKARTA TIMUR
Nama Ketua Panti
Ny Hj. Endang Umar Wahid

Status Panti
Swasta

Keadaan gedung
Permanen

Th. Didirikan/beroperasi
1976/1977

Th. Renovasi I
1996

Th. Renovasi II
2001

Status tanah
Hak Guna Bangunan

Luas tanah
1.680 m2

Luas bangunan
1.528 m2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: